TANJUNG REDEB, BorneoPost – Dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-72 Kabupaten Berau dan Hari Ulang Tahun ke-215 Kota Tanjung Redeb, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menggelar Lomba Olahraga Tradisional Tahun 2025 di Lapangan Batiwakkal, Kamis (9/10/2025) kemarin.
Kegiatan yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Berau, Gamalis. Lomba tersebut menampilkan beragam permainan rakyat yang dulu populer di masyarakat, seperti tarik tambang, balap karung, engrang, dan sumpit.
Dalam sambutannya, Gamalis menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai, lomba olahraga tradisional tidak hanya sekadar ajang hiburan, tetapi juga menjadi media penting untuk menjaga kebugaran masyarakat sekaligus melestarikan warisan budaya lokal.
“Kegiatan ini bukan hanya untuk seru-seruan, tapi juga upaya menjaga kebugaran masyarakat dan melestarikan olahraga tradisional yang mulai jarang dimainkan,” ujarnya.
Gamalis menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi muda di era digital saat ini. Menurutnya, perkembangan teknologi dan maraknya game online membuat minat terhadap olahraga tradisional semakin menurun. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak, terutama tenaga pendidik, untuk berperan aktif memperkenalkan kembali permainan khas daerah kepada anak-anak.
“Ini tantangan bagi kita semua. Saya mendorong Dispora bekerja sama dengan guru olahraga di sekolah agar anak-anak kembali mengenal dan mencintai permainan tradisional,” tegasnya.
Lebih jauh, Gamalis mengusulkan agar kegiatan serupa dijadikan agenda rutin tahunan melalui Pekan Olahraga Tradisional Kabupaten (PORTRAKAB). Ia menilai, ajang tersebut tidak hanya menjaga kelestarian budaya, tetapi juga bisa menjadi wadah untuk meningkatkan prestasi olahraga tradisional Berau di tingkat provinsi maupun nasional.
“Kalau rutin digelar, kegiatan ini bisa jadi ikon baru Berau. Selain menjaga budaya, kita juga bisa mencetak atlet olahraga tradisional berprestasi,” tambahnya.
Gamalis berharap lomba olahraga tradisional tidak berhenti pada momentum peringatan hari jadi daerah semata, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan untuk memperkuat identitas dan kebersamaan masyarakat.
“Warisan budaya seperti olahraga tradisional adalah jati diri kita. Mari kita jaga, kita hidupkan kembali, agar anak cucu kita tidak melupakannya,” pungkasnya.
Arifin/Adv












