BERAU, BorneoPost – Setelah konsisten menjaga tren positif dalam pengembangan literasi selama beberapa tahun terakhir, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau kembali memasang target ambisius. Pada 2026, Berau membidik posisi puncak sebagai daerah dengan program transformasi perpustakaan terbaik, tidak hanya di tingkat Provinsi Kalimantan Timur, tetapi juga nasional.
Kepala Dispusip Berau, Yudha Budisantosa, menegaskan bahwa meskipun intensitas kegiatan lapangan sempat mengalami penyesuaian, komitmen pembinaan perpustakaan dan penguatan budaya literasi tetap menjadi prioritas utama.
“Pembinaan perpustakaan dan pembudayaan gemar membaca tetap kami jalankan secara konsisten, sebagaimana yang telah berlangsung sepanjang 2025,” ujar Yudha, Selasa (13/1/2026).
Ia menjelaskan, pada tahun ini Dispusip Berau fokus pada tiga pilar utama pengembangan literasi, dengan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) sebagai program unggulan. Program tersebut terbukti efektif setelah tiga tahun berturut-turut mengantarkan Berau meraih predikat terbaik se-Kalimantan Timur.
“TPBIS menempatkan perpustakaan sebagai pusat aktivitas masyarakat, bukan hanya ruang baca, tetapi juga sarana peningkatan kapasitas dan pemberdayaan ekonomi warga,” jelasnya.
Selain itu, Dispusip Berau juga menggenjot akreditasi perpustakaan sekolah dan perpustakaan kampung. Upaya ini dilakukan untuk memastikan setiap layanan perpustakaan memenuhi standar nasional dan mampu menjangkau masyarakat secara merata.
“Akreditasi menjadi tolok ukur kualitas pelayanan. Kami ingin perpustakaan di kampung dan sekolah benar-benar siap melayani kebutuhan literasi masyarakat,” ungkap Yudha.
Berbagai inovasi program literasi yang digulirkan juga diarahkan untuk mendongkrak Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM). Tantangan geografis yang luas mencakup 13 kecamatan, 100 kampung, dan 10 kelurahan menjadi alasan utama penguatan perpustakaan di tingkat lokal.
“Tidak semua masyarakat dapat mengakses perpustakaan pusat setiap hari. Koleksi digital memang sudah tersedia, namun masih terbatas. Karena itu, pembinaan perpustakaan kampung dan sekolah menjadi strategi kunci kami,” paparnya.
Dengan keberadaan perpustakaan terakreditasi di setiap kampung, Dispusip Berau berharap akses layanan literasi semakin dekat dan merata. Langkah ini diyakini mampu meningkatkan kegemaran membaca sekaligus memperkuat indeks literasi masyarakat Berau secara signifikan sepanjang 2026.
“Target kami jelas, literasi harus hadir di tengah masyarakat, bukan sebaliknya,” pungkas Yudha.












