banner 728x250
Berita  

Duta Pariwisata Kaltim Daftarkan HAKI untuk Batik Pampang 2024

Samarinda, BorneoPost – Arif Noor Gunawan dan Nadya Pradita Hosensyah, yang menyandang gelar Duta Pariwisata Kalimantan Timur tahun 2023, memperkenalkan Batik Pampang 2024 dalam acara Festival Budaya Dayak Kenyah 2024, di Desa Budaya Pampang, Kota Samarinda.

Hal itu guna mempromosikan kekayaan budaya Dayak Kenyah yang salah satunya adalah ragam motif batik khas daerah tersebut.

Nadya menjelaskan nama Batik Pampang diambil dari Kampung Batik Pampang. Adapun kata Pampang diartikan sebagai “putik” yang melambangkan harapan akan pertumbuhan dan perkembangan.

“Putik Pampang berasal dari kata ‘putik’, yang simbolisnya adalah harapan untuk pertumbuhan. Kami berharap inisiatif ini tidak hanya menjadi program sementara, tetapi langkah konkret untuk mengembangkan UMKM di sekitar Desa Budaya Pampang. Dengan begitu, manfaat ekonomi, sosial, dan pemberdayaan masyarakat dapat dirasakan secara menyeluruh,” jelas Nadya

Arif Noor Gunawan menambahkan bahwa pemilihan Desa Budaya Pampang sebagai fokus program Duta Wisata bukan keputusan yang sembarangan, melainkan karena nilai budaya yang sangat kental yang dimiliki oleh desa tersebut.

“Pada awalnya, kami memiliki dua opsi, Kampung Ketupat dan Desa Budaya Pampang. Namun, kami akhirnya memilih Desa Budaya Pampang karena kami merasa bahwa desa ini memiliki nilai budaya yang sangat kuat,” ungkap Arif

Dalam upaya melindungi dan mempromosikan Batik Pampang, Arif dan Nadya telah mengamankan dua HAKI, yakni Hak Cipta yang mereka kembangkan bersama Kai Syahril Darmawi dari Borneo Craft Indonesia sejak Juli tahun sebelumnya, serta Hak Merek Dagang yang diperkuat dari Maret hingga Mei. Langkah-langkah hukum ini bertujuan untuk memperkuat sektor ekonomi di Desa Budaya Pampang.

Motif Batik Pampang yang terinspirasi dari budaya Dayak Kenyah mencerminkan kekayaan dan keunikan lokal, dengan gambar burung Enggang dan Macan yang melambangkan nilai-nilai keberanian, kebersamaan, dan persatuan yang kuat dalam masyarakat Dayak.

“Motif Pampang kami ambil dari tanah asli orang Dayak, dengan gambar burung Enggang dan Macan yang melambangkan nilai-nilai keberanian, kebersamaan, dan persatuan. Masyarakat Dayak dikenal memiliki sifat komunal yang sangat kuat, selalu bersatu dalam segala hal,” jelas Nadya

Arif dan Nadya mengadaptasi tradisi lokal untuk menginovasi Batik Pampang, menggambarkan komitmen mereka terhadap pelestarian dan representasi Desa Budaya Pampang di tingkat nasional. Mereka berencana untuk membawa Batik Pampang ke panggung nasional dalam kontes Duta Wisata Nasional, sebagai langkah untuk memperluas pemahaman dan penerimaan terhadap karya seni dan budaya lokal.

“Ini akan kami bawa ke ajang pemilihan Duta Wisata Nasional, sehingga Batik Pampang bisa dikenal lebih luas,” kata Nadya.

Batik Pampang, dengan harga jual Rp. 250.000, tersedia dalam berbagai model seperti kemeja, blouse, dan rok, disesuaikan dengan kreasi dan kebutuhan pembeli. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui situs resmi mereka di putikpampang.com.

Peluncuran Batik Pampang 2024 ini menandai langkah awal yang penting dalam upaya melestarikan warisan budaya Dayak Kenyah dan meningkatkan kesejahteraan komunitas lokal. (Delvi/Rdk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *