BERAU, BorneoPost – Angka kemiskinan di Kabupaten Berau yang masih bertahan di kisaran 5,08 persen dinilai tidak bisa dibaca sekadar sebagai statistik. Di balik angka tersebut, persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang masih mencapai ribuan orang menjadi sinyal kuat adanya risiko kemiskinan struktural yang terus berulang.
Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina, mengingatkan bahwa kemiskinan dan ATS merupakan dua persoalan yang saling menguatkan. Tanpa intervensi kebijakan yang serius dan terintegrasi, kondisi tersebut berpotensi melahirkan masalah sosial baru di masa depan.
“Selama masih ada anak yang tidak sekolah, selama itu pula peluang kemiskinan akan terus diwariskan. Ini persoalan serius yang tidak boleh dianggap biasa,” tegas Elita.
Ia menilai, posisi Berau yang relatif lebih baik dibanding daerah lain di Kalimantan Timur justru tidak boleh membuat pemerintah daerah lengah. Menurutnya, fokus pada perbandingan antarwilayah berisiko menutup mata terhadap persoalan mendasar yang terjadi di lapangan.
Elita juga menyoroti persoalan pendataan ATS yang kerap terkendala oleh tingginya mobilitas penduduk. Namun ia menegaskan, penyelesaian masalah tidak boleh berhenti pada pembaruan data administratif semata.
“Memperbaiki data itu penting, tapi yang jauh lebih penting adalah memastikan anak-anak ini benar-benar kembali ke sekolah. Jangan sampai mereka tercatat, tapi tetap berada di luar sistem pendidikan,” ujarnya.
Untuk itu, ia mendorong penguatan kerja lintas sektor antara Dinas Pendidikan (Disdik), perangkat kecamatan, kelurahan, hingga desa. Penelusuran ATS, menurutnya, harus dilakukan secara aktif dan berbasis wilayah agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran.
Komisi I DPRD Berau, lanjut Elita, berkomitmen mengawal program penanganan ATS agar tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan menjadi kebijakan berkelanjutan yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Pendidikan adalah investasi sosial jangka panjang. Jika ini gagal kita jaga, maka kemiskinan akan terus menjadi cerita yang berulang,” pungkasnya.












