Samarinda, Borneo Post- Hari Buruh Internasional, yang diperingati setiap tanggal 1 Mei, merupakan momen penting untuk mengakui dan menghormati kontribusi pekerja di seluruh dunia. Sebuah pengingat kepada kita semua bahwa kelas pekerja adalah kekuatan yang besar bagi perubahan sosial.
Sebagaimana, “Sejarah semua masyarakat yang ada sampai sekarang adalah sejarah perjuangan kelas.” Seperti mereka, kita juga percaya bahwa perubahan sejarah pada dasarnya adalah hasil dari perjuangan antar kelas. Setiap perbaikan dalam kehidupan masyarakat biasa “Penciptaan akhir pekan, penghapusan perbudakan, dan runtuhnya kerajaan” Merupakan hasil dari perjuangan kaum tertindas dan tereksploitasi melawan sistem yang menindas dan mengeksploitasi kita.
“Khususnya kita mendorong soal ada kenaikan upah terhadap guru atau upah yang ada di Kalimantan Timur,” ucap Alfonsius Limba selaku Humas Aksi Komite Rakyat Melawan saat ditemui di depan Kantor Gubernur, pada Kamis (02/05/2024)
Hari ini, dalam masyarakat kapitalis kita saat ini, kelas pekerja secara numerik merupakan kelas terbesar. Ketika kita mengatakan “kelas pekerja,”. Secara umum, ini mengacu pada kita yang tidak memiliki pabrik, pertanian, kantor, atau saham di dalamnya (juga dikenal sebagai “alat produksi”) sehingga perlu menjual kemampuan kita untuk bekerja kepada orang-orang yang memiliki.
Namun situasi negara yang saat ini semakin memeras tenaga kerja kita dengan upah murah serta kerja tak layak, Omnibus Law yang disahkan secara tergesa-gesa demi kepentingan para penguasa serta dilestarikan sebagaimana kurikulum pendidikan saat ini yang memiliki orientasi mencetak tenaga kerja dengan upah murah. Melibatkan diri dalam aktivitas politik merupakan langkah bersama memenangkan gagasan kesejahteraan atas hak kita.
- Cabut Omnibus law cipta kerja.
- Hapus sistem kerja outsourcing dan sistem kerja kontrak.
- Tolak upah murah dan wujudkan upah layak nasional.
- Hapus kekerasan dan pelecehan dalam dunia kerja (Konvensi ILO 190)
- Sahkan RUU PPRT.
- Hentikan tindakan represifitas aparat terhadap gerakan rakyat.
“Serta bentuk solidaritas kami kepada kawan-kawan buruh di Kalimantan Timur yang mendapatkan begitu banyak bentuk ketidakadilan, salah satunya sebagai berikut; pertama, realisasi perjanjian bersama Tripartite PT. SLJ
tbk tanpa syarat, kedua, bebaskan Aktivis dan Petani sawit Kubar PT. London Sumatera Kutai Barat, ketiga, tolak PHK sepihak terhadap buruh sawit PT. Citra Palma Pertiwi (CPP1) Mahakam Ulu,” tegas Alfonsius pada saat aksi demo berlangsung.
Bersama-sama, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik bagi buruh. Masa depan di mana buruh mampu melindungi hak-haknya, dan menentukan langkah untuk kesejahteraan hidupnya. Mari kita menjadikan Hari Buruh Internasional ini sebagai momen untuk menyatukan kekuatan buruh dan rakyat dalam perjuangan untuk kemerdekaan sepenuhnya. (Delvi/Grace)












