banner 728x250

PJU Tenaga Surya Jadi Harapan Baru Atasi Titik Gelap di Berau

BERAU, BorneoPost — Maraknya aktivitas warga pada malam hari kembali menyeret isu klasik “titik gelap” ke permukaan. Sejumlah ruas jalan di Kabupaten Berau masih berada dalam kondisi minim penerangan, memicu kekhawatiran serius soal keselamatan dan keamanan publik. Sorotan tajam datang dari Sekretaris Komisi III DPRD Berau, Ratna, yang menilai persoalan penerangan jalan tidak bisa lagi dianggap sepele.

Ratna menegaskan, keberadaan penerangan jalan umum (PJU) merupakan elemen penting yang berkaitan langsung dengan keselamatan jiwa masyarakat. Banyak ruas jalan, terutama di kawasan pinggiran dan jalur dengan lalu lintas cukup tinggi, masih masuk kategori blind spot — area rawan kecelakaan karena pencahayaan yang buruk.

“PJU itu bukan urusan estetika kota. Ini menyangkut keselamatan warga yang melintas setiap malam,” ujar Ratna.

Ia menuturkan, titik gelap tidak hanya meningkatkan risiko kecelakaan, tetapi juga membuka peluang tindak kriminal. Menurutnya, kondisi jalan yang gelap sering menjadi ruang yang menguntungkan bagi pelaku kejahatan, terutama di wilayah yang jauh dari permukiman.

Dalam situasi inilah, program pemasangan PJU tenaga surya yang tengah digarap Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Perhubungan (Dishub) dinilai sebagai langkah strategis. Teknologi lampu tenaga surya dianggap mampu menjadi solusi cepat dan efisien terutama untuk wilayah yang sulit dijangkau jaringan listrik.

Ratna menilai penerapan lampu tenaga surya merupakan kombinasi ideal antara inovasi energi terbarukan dan kebutuhan mendesak masyarakat akan penerangan jalan.

“PJU tenaga surya bukan sekadar teknologi ramah lingkungan. Ini jawaban untuk menghilangkan titik-titik gelap yang selama ini membahayakan warga,” tegasnya.

Ia menambahkan, penggunaan energi surya dapat mempercepat pemerataan penerangan tanpa bergantung pada infrastruktur listrik PLN, sehingga pemasangan bisa dilakukan lebih fleksibel.

DPRD, lanjut Ratna, akan terus mengawal pelaksanaan program tersebut agar tepat sasaran. Ia menekankan pentingnya mapping lokasi rawan berdasarkan data kecelakaan, laporan warga, serta hasil tinjauan lapangan. Menurutnya, upaya memperbanyak penerangan jalan tidak boleh berjalan parsial, tetapi harus mengikuti skema kebutuhan yang terukur.

Selain itu, Ratna menilai keberlanjutan perawatan PJU tenaga surya juga wajib menjadi perhatian. Ia mengingatkan bahwa pemasangan lampu saja tidak cukup, perlu ada mekanisme pengawasan agar perangkat tetap berfungsi optimal dalam jangka panjang.

Dengan keberadaan PJU yang memadai, Ratna optimistis kualitas mobilitas malam hari di Berau akan meningkat. Tidak hanya menekan angka kecelakaan, namun juga memberikan rasa aman bagi warga yang bepergian, baik untuk bekerja, berdagang, maupun aktivitas sosial lainnya.

“Ketika jalan terang, rasa aman meningkat. Itu yang masyarakat butuhkan,” pungkasnya.

Arifin/Adv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *