banner 728x250

Rute Kalimarau–Maratua Dibuka, Pemerintah Diminta Jaga Ritme dan Jangan Setengah Hati

BERAU, BorneoPost – Pembukaan rute penerbangan Kalimarau–Maratua oleh Wings Air tidak boleh berhenti sebagai seremoni semata. Tanpa langkah lanjutan yang terukur, rute menuju destinasi wisata kelas dunia itu terancam kehilangan denyutnya.

Kepala Otoritas Bandara Wilayah VII, Ferdinand Nurdin, menekankan bahwa keberlangsungan penerbangan ke Maratua sepenuhnya bergantung pada komitmen pemerintah daerah dalam mengelola dan memasarkan potensi wisata secara serius. Menurutnya, promosi yang terfragmentasi tidak lagi relevan untuk destinasi berorientasi internasional.

Maratua, kata Ferdinand, membutuhkan ekosistem perjalanan yang terintegrasi—mulai dari tiket pesawat, akomodasi, hingga transportasi lanjutan. Skema paket perjalanan terpadu dinilai sebagai solusi konkret untuk meningkatkan minat dan kenyamanan wisatawan.

“Maskapai, pengelola hotel, resort, dan agen perjalanan harus duduk satu meja. Dikemas dalam satu paket, agar wisatawan tidak dipusingkan dengan urusan teknis perjalanan,” ujarnya.

Ia menilai, kegagalan membangun integrasi selama ini kerap berujung pada pengalaman buruk wisatawan, khususnya turis mancanegara. Rute yang terputus, perpindahan antarmaskapai, hingga ketergantungan pada transportasi laut menjadi titik rawan yang sering berujung kekecewaan.

“Ketika satu penerbangan terlambat, seluruh rantai perjalanan bisa runtuh. Ini bukan soal jarak, tapi soal kepastian layanan,” tegasnya.

Ferdinand menegaskan, pemerintah daerah harus mengambil peran sebagai koordinator utama, bukan sekadar fasilitator. Penyelarasan kepentingan antara pelaku usaha pariwisata dan maskapai, menurutnya, merupakan prasyarat mutlak jika Berau ingin menjadikan Maratua sebagai pintu gerbang wisata internasional di Kalimantan Timur.

Momentum tersebut, lanjut Ferdinand, semakin relevan seiring ditetapkannya Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai pusat pemerintahan nasional. Arus mobilitas penduduk dari berbagai daerah, bahkan luar negeri, diperkirakan akan meningkat signifikan.

Dalam konteks itu, Berau berada pada posisi strategis. Selain memiliki keunggulan alam, daerah ini dinilai paling siap menyambut wisatawan berskala besar dibandingkan wilayah lain di Kalimantan Timur.

“Ini momen langka. Ketika IKN berkembang, arus manusia pasti besar. Pertanyaannya, Berau mau jadi tujuan atau sekadar penonton,” katanya.

Ia pun mengingatkan bahwa kesempatan tersebut tidak datang dua kali. Tanpa kolaborasi lintas sektor, peluang besar yang ada justru berisiko terlewat.

“Pilihannya jelas, bersiap dan bergerak bersama, atau tertinggal. Golden moment ini harus dimanfaatkan,” pungkas Ferdinand.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *