1.083 Lubang Jalan Ditangani, DPUPR Berau Andalkan Tim Reaksi Cepat

BERAU, BorneoPost – Ribuan kerusakan kecil di ruas jalan kabupaten menjadi sasaran penanganan cepat Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau sepanjang semester pertama 2026.

Bukan dengan proyek rehabilitasi berskala besar, DPUPR memilih langkah pemeliharaan rutin melalui Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk menangani kerusakan yang dinilai mendesak, khususnya lubang-lubang yang berpotensi mengganggu keselamatan pengguna jalan.

Kepala Bidang Preservasi Jalan dan Jembatan DPUPR Berau, Junaidi, mengatakan sebanyak 1.083 titik lubang jalantelah ditangani sejak Januari hingga Juni 2026.

Menurutnya, pola penanganan tersebut sengaja diarahkan pada titik kerusakan, bukan perbaikan dalam bentang panjang seperti pekerjaan overlay

.

“Dari Januari sampai Juni 2026, ada 1.083 titik kerusakan berupa lubang yang sudah kami tangani. Fokus kami memang pada titik-titik kerusakan, bukan penanganan memanjang seperti overlay,” ujar Junaidi, Rabu (24/6/2026).

Strategi tersebut dinilai lebih efektif untuk menjaga kondisi jalan tetap fungsional sembari mengoptimalkan ketersediaan material pemeliharaan.

Untuk pekerjaan di lapangan, TRC menggunakan material aspal campuran dingin atau cold mix yang dikemas dalam karungan. Material ini dipilih karena lebih praktis dibawa dan digunakan untuk pekerjaan penambalan pada kerusakan yang bersifat lokal.

Junaidi menyebut, metode tersebut terutama diterapkan pada ruas jalan dengan tingkat lalu lintas yang tidak terlalu berat.

“Kenapa kami fokus di titik-titik kerusakan? Karena kami ingin mengefisienkan penggunaan material agar stok bisa bertahan sepanjang tahun. Ini bagian dari pemeliharaan rutin,” jelasnya.

Penanganan tidak hanya terpusat di kawasan perkotaan. Berdasarkan data DPUPR, pekerjaan tersebar di sejumlah wilayah, di antaranya Biduk-Biduk, Talisayan, Sambaliung, Tanjung Redeb, Gunung Tabur, dan Teluk Bayur.

Di Kecamatan Sambaliung, tim menangani sejumlah kerusakan di Jalan Limunjan dan Jalan Bukit Berbunga. Sementara di Kecamatan Teluk Bayur, perbaikan dilakukan pada Jalan Poros Tumbit Melayu dengan menangani 35 titik lubang.

Adapun di Kampung Pulau Besing, tercatat 22 titik lubang ditangani. Selain penambalan, DPUPR juga mengerjakan satu hamparan jalan dengan panjang sekitar 23 meter.

Junaidi menegaskan, cakupan pekerjaan TRC ditentukan oleh kondisi lapangan dan status ruas jalan. Selama kerusakan berada di jalan berstatus kabupaten, dapat dijangkau tim, serta material tersedia, penanganan dapat dilakukan.

“Penanganannya tersebar, baik di dalam kota maupun luar kota. Yang penting lokasinya bisa dijangkau, material tersedia, dan status jalannya merupakan jalan kabupaten,” katanya.

DPUPR juga menjelaskan bahwa laporan masyarakat terkait jalan rusak tidak otomatis berujung pada pekerjaan saat itu juga. Setiap laporan terlebih dahulu diverifikasi untuk menentukan tingkat kerusakan dan metode penanganannya.

Untuk lubang-lubang kecil yang sifatnya sporadis, pekerjaan dapat masuk dalam skema pemeliharaan rutin TRC. Setelah dilakukan pengecekan dan dipastikan alat, material, serta personel tersedia, tim dapat langsung melakukan penambalan.

Namun, kondisi berbeda berlaku apabila kerusakan sudah meluas dan membentuk bentang jalan yang panjang.

Kerusakan semacam itu membutuhkan penanganan melalui pekerjaan konstruksi yang lebih besar, termasuk overlay. Karena masuk dalam skema kegiatan pembangunan atau rehabilitasi, prosesnya tidak dapat dilakukan secara spontan.

Usulan harus melalui tahapan perencanaan dan penganggaran, mulai dari pembahasan di Bapelitbang, Musrenbang, hingga masuk dalam rencana kerja dan anggaran pada tahun berikutnya.

“Kalau hanya lubang-lubang spot, tim bisa langsung turun melakukan pengecekan. Ketika material dan alat siap, pekerjaan bisa langsung dilaksanakan. Tetapi kalau kerusakannya memanjang, tentu mekanismenya berbeda karena membutuhkan perencanaan dan anggaran,” pungkas Junaidi.

Langkah cepat melalui TRC tersebut menjadi salah satu upaya DPUPR Berau menjaga konektivitas jalan kabupaten tetap aman dan fungsional, sembari menunggu penanganan permanen terhadap ruas-ruas yang membutuhkan rehabilitasi lebih besar.

Exit mobile version