banner 728x250

Berau Perkuat Ekowisata, Tak Hanya Andalkan Wisata Kepulauan

BERAU, BorneoPost – Berau tak ingin terus bergantung pada pesona wisata kepulauan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mulai memperluas arah pengembangan pariwisata dengan mendorong ekowisata sebagai kekuatan baru untuk menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Langkah ini dinilai penting karena sebagian besar daya tarik wisata Berau bertumpu pada kekayaan alam dan budaya yang rentan terdampak jika tidak dikelola secara berkelanjutan.

Bupati Berau Sri Juniarsih mengatakan, pengembangan destinasi harus mampu memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa menghilangkan karakter dan keaslian lingkungan yang menjadi daya tarik utama.

Menurutnya, konsep pariwisata berkelanjutan relevan dengan kondisi geografis Berau. Pengelolaan destinasi tidak semata mengejar peningkatan kunjungan, tetapi juga memastikan ekosistem tetap terjaga.

“Pemkab Berau menyambut baik langkah bersama ini demi mewujudkan sektor pariwisata berkelanjutan, yang tentu harus dibarengi kesadaran tinggi menjaga keasrian destinasi,” tegasnya.

Saat ini, Berau memiliki 18 desa wisata dan 225 destinasi wisata yang tersebar di berbagai wilayah. Terdiri dari 159 wisata alam, 39 wisata budaya dan 27 wisata buatan.

Potensi tersebut membuka ruang pengembangan pariwisata dengan beragam pendekatan. Tidak hanya wisata bahari, Pemkab Berau mulai memberi perhatian terhadap destinasi yang menawarkan pengalaman berinteraksi langsung dengan alam dan kehidupan masyarakat lokal.

Di antaranya ekowisata mangrove di Teluk Semanting dan wisata Kampung Rotan di Long Beliu. Destinasi semacam ini dinilai memiliki nilai tambah karena wisatawan tidak sekadar menikmati pemandangan, tetapi juga mengenal lingkungan, budaya hingga aktivitas masyarakat setempat.

Sri Juniarsih melihat perubahan tren wisata sebagai peluang bagi Berau. Konsep back to nature atau kembali ke alam semakin diminati wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Karakter tersebut sejalan dengan bentang alam Berau yang membentang dari pesisir dan kepulauan hingga kawasan hutan serta kekayaan budaya masyarakat.

“Dampak pengembangan ini sangat luar biasa, sehingga ke depan Berau tidak hanya dikenal dengan keindahan wisata kepulauannya saja, tetapi juga keunggulan ekowisatanya,” jelasnya.

Namun, pengembangan ekowisata tidak bisa berjalan sendiri. Pemkab Berau mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), untuk membangun sektor pariwisata yang memiliki perspektif konservasi.

Konsep ini juga diharapkan memperluas keterlibatan masyarakat dalam rantai ekonomi pariwisata. Pelaku usaha lokal, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) hingga masyarakat dapat mengambil peran melalui penyediaan jasa, produk lokal maupun pengelolaan destinasi.

Di sisi lain, peningkatan aktivitas wisata juga membawa tantangan, terutama persoalan kebersihan dan pengelolaan sampah.

Untuk mengantisipasinya, Pemkab Berau mulai menyiapkan dukungan infrastruktur kebersihan, termasuk pengadaan armada truk sampah dan penyusunan Detail Engineering Design (DED) Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di kawasan pesisir.

Fasilitas penunjang wisata juga diarahkan agar lebih ramah lingkungan. Penyiapan sarana jelajah di kawasan wisata menjadi salah satu upaya mengendalikan aktivitas pengunjung agar tidak memberi tekanan berlebihan terhadap ekosistem darat maupun bahari.

Pemkab Berau menegaskan, keberhasilan pariwisata berkelanjutan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Pengelola destinasi dan masyarakat yang bersentuhan langsung dengan aktivitas wisata juga memiliki peran penting.

Para pelaku usaha, Pokdarwis, BUMK dan masyarakat didorong tidak hanya memanfaatkan potensi alam sebagai sumber pendapatan, tetapi ikut menjaga keberlangsungannya.

Sri Juniarsih mengingatkan, nilai ekonomi yang lahir dari sektor pariwisata tidak boleh dibayar dengan kerusakan lingkungan.

“Kita boleh memanfaatkan keindahan hutan demi mendapatkan keuntungan ekonomi, namun jangan pernah lupa menjaga kelestarian ekosistemnya agar tetap bermanfaat hingga masa mendatang,” pungkasnya.

Arifin/Adv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *