Bupati Sri Juniarsih Tunjukkan Kepemimpinan Merakyat, Serap Aspirasi PKL di Ruang Publik

BERAU, BorneoPost – Gaya kepemimpinan yang merakyat dan tanpa sekat kembali ditunjukkan Bupati Berau, Sri Juniarsih, saat mengunjungi kawasan ruang terbuka hijau di Taman Cendana dan Lapangan Batiwakkal, Tanjung Redeb, beberapa waktu lalu.

Di tengah hiruk-pikuk aktivitas warga yang memanfaatkan waktu sore untuk bersantai, kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Berau itu menciptakan suasana akrab. Tanpa protokoler yang kaku, Sri Juniarsih berbaur dengan masyarakat, menyapa para pedagang kaki lima (PKL), serta berbincang santai dengan pengunjung yang tengah menikmati suasana taman kota.

Momen sederhana itu menjadi gambaran pendekatan kepemimpinan yang berupaya mendekatkan pemerintah dengan masyarakat. Sembari menikmati semangkuk mi ayam dan es campur di pinggir jalan, Sri Juniarsih mendengarkan secara langsung keluh kesah, masukan, hingga harapan para pelaku usaha mikro yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas perdagangan di kawasan tersebut.

Bagi sebagian orang, percakapan di tepi jalan mungkin terlihat biasa. Namun, bagi para pedagang kecil, kesempatan menyampaikan aspirasi secara langsung kepada kepala daerah menjadi ruang penting untuk menyuarakan kebutuhan mereka, terutama terkait keberlangsungan usaha dan penataan kawasan tempat mereka mencari nafkah.

Sri Juniarsih menegaskan, keberadaan ruang publik seperti taman kota dan lapangan terbuka tidak semata-mata berfungsi sebagai elemen estetika untuk memperindah wajah perkotaan. Lebih dari itu, kawasan tersebut memiliki fungsi sosial dan ekonomi yang turut menghidupkan aktivitas masyarakat.

“Penataan yang tertata rapi, bersih, dan asri akan memberikan nilai tambah. Tidak hanya membuat kota semakin enak dipandang, tetapi juga menciptakan iklim yang aman dan nyaman bagi para pedagang maupun pengunjung,” ujar Sri Juniarsih.

Menurutnya, penataan kawasan perkotaan harus mampu menghadirkan keseimbangan antara keindahan lingkungan, kenyamanan masyarakat, serta keberlangsungan usaha para pedagang kecil. Pembangunan kota tidak cukup hanya menghasilkan ruang yang indah dipandang, tetapi juga harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang beraktivitas di dalamnya.

Pemerintah Kabupaten Berau pun terus berupaya menyelaraskan pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan penataan ruang yang tertib, bersih, dan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, keberadaan PKL dipandang sebagai bagian dari denyut perekonomian lokal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat perkotaan.

Sri Juniarsih juga menilai, pedagang kecil memiliki peran strategis dalam menggerakkan roda ekonomi daerah. Aktivitas mereka bukan hanya menjadi sumber penghidupan bagi keluarga, tetapi juga ikut menciptakan keramaian, memperkuat interaksi sosial, dan mendukung tumbuhnya kegiatan ekonomi di sekitar ruang publik.

Karena itu, dinas terkait diminta untuk mengoptimalkan penataan kawasan agar aktivitas perdagangan dapat berlangsung secara tertib tanpa mengabaikan kepentingan para pelaku usaha. Pengaturan yang tepat diharapkan mampu memberikan kepastian bagi pedagang dalam menjalankan usaha, sekaligus menjaga fungsi ruang terbuka hijau agar tetap nyaman digunakan masyarakat.

“Kawasan yang ditata dengan rapi dan bersih justru akan menarik lebih banyak pengunjung, yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan para pedagang setempat,” tambahnya.

Pendekatan melalui dialog langsung di lapangan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kebijakan pembangunan perlu berangkat dari kondisi nyata masyarakat. Aspirasi pedagang, kebutuhan pengunjung, serta fungsi lingkungan harus menjadi pertimbangan dalam menentukan arah penataan kawasan perkotaan.

Dengan perencanaan yang matang dan koordinasi antardinas terkait, Pemkab Berau optimistis ruang publik dapat berkembang menjadi kawasan yang tidak hanya asri dan nyaman, tetapi juga produktif bagi masyarakat. Penataan yang berpihak pada kepentingan bersama diharapkan mampu membuka peluang ekonomi tanpa mengorbankan kebersihan, ketertiban, dan keindahan kota.

Pada akhirnya, pembangunan kota yang humanis bukan sekadar tentang perubahan wajah kawasan, melainkan juga tentang bagaimana masyarakat kecil tetap memperoleh ruang untuk tumbuh dan sejahtera. Di balik taman yang tertata dan ruang publik yang ramai dikunjungi, terdapat kehidupan para pedagang yang terus berjuang memenuhi kebutuhan keluarga.

Kehadiran pemerintah di tengah mereka menjadi penting untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya memperindah kota, tetapi juga menghadirkan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kita ingin penataan kota tidak hanya membuat Berau semakin indah dan nyaman, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat kecil untuk terus tumbuh dan meningkatkan kesejahteraannya. Karena pembangunan yang baik adalah pembangunan yang mampu berjalan seiring antara keindahan lingkungan dan kemajuan ekonomi masyarakat,” tutup Sri Juniarsih.

Exit mobile version