banner 728x250

Kunjungan Wisata di Berau Melejit, Bupati Sri Dorong Transformasi Ekonomi dari Tambang ke Pariwisata

BERAU, BorneoPost – Sektor pariwisata di Kabupaten Berau menunjukkan geliat luar biasa sepanjang 2025. Berdasarkan data terbaru, jumlah kunjungan wisatawan menembus 557.214 orang, naik tajam dari 422.592 pengunjung pada 2024. Lonjakan ini menandai meningkatnya daya tarik wisata Bumi Batiwakkal di mata pelancong domestik maupun mancanegara.

Kenaikan signifikan tersebut sebagian besar disumbang oleh destinasi unggulan seperti Pulau Derawan, Maratua, dan Labuan Cermin, yang terus menjadi magnet wisata bahari andalan. Selain itu, kawasan wisata perkotaan di Tanjung Redeb juga mulai ramai dikunjungi, terutama saat musim liburan dan akhir pekan.

Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menyambut positif capaian tersebut dan menegaskan pentingnya menjaga tren pertumbuhan wisata agar tetap berkelanjutan. Ia mengimbau seluruh instansi terkait, termasuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), untuk semakin serius mengembangkan potensi wisata lokal.

“Tren ini membuktikan bahwa Berau semakin diminati sebagai destinasi berlibur. Pemerintah dan masyarakat harus bersinergi agar jumlah kunjungan tidak justru menurun di tahun-tahun berikutnya,” ujar Sri, Jumat (7/11/2025).

Menurutnya, pariwisata memiliki efek ganda terhadap perekonomian rakyat karena melibatkan banyak sektor pendukung — mulai dari pelaku UMKM, pengelola penginapan, hingga jasa pemandu wisata.

“Pariwisata bisa menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan. Kalau dikelola dengan baik, manfaatnya akan langsung dirasakan masyarakat,” jelasnya.

Bupati Sri juga menekankan bahwa pemerintah daerah memiliki tanggung jawab besar untuk terus membenahi fasilitas wisata, meningkatkan infrastruktur pendukung, serta memastikan kenyamanan wisatawan agar betah berlama-lama di Berau.

Lebih jauh, Sri menegaskan bahwa keseriusan Pemkab dalam menggenjot sektor pariwisata bukan semata demi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi transformasi ekonomi — mengurangi ketergantungan daerah terhadap sektor tambang, khususnya batubara.

“Tambang itu ada batasnya. Tiga puluh sampai lima puluh tahun lagi bisa habis. Tapi pariwisata, semakin dibenahi justru semakin indah dan berkelanjutan. Ini investasi jangka panjang untuk masa depan Berau,” tegasnya.

Arifin/Adv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *