BERAU, BorneoPost – Persoalan kebersihan di destinasi wisata unggulan Labuan Cermin kembali mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Berau. Di tengah daya tarik alamnya yang memikat wisatawan, upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan dinilai harus menjadi prioritas bersama agar keindahan destinasi tersebut tetap terjaga.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, menegaskan bahwa dana retribusi yang dihimpun dari kunjungan wisatawan perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung operasional kebersihan, pemeliharaan kawasan, serta pelestarian alam secara berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Gamalis saat ditemui di ruang kerjanya, Kantor Sekretariat Kabupaten Berau, Kamis (22/10) siang. Menurutnya, pengelolaan destinasi wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam dan kesadaran pengunjung. Diperlukan pula tanggung jawab serta profesionalisme pengelola dalam memastikan kawasan wisata tetap bersih, tertata, dan nyaman dikunjungi.
“Dana retribusi yang masuk dari kawasan wisata perlu dimaksimalkan untuk mendukung operasional kebersihan dan pemeliharaan alam,” ujar Gamalis.
Ia menilai, retribusi yang dipungut dari wisatawan semestinya memberikan manfaat nyata bagi keberlangsungan destinasi, termasuk menunjang kebutuhan petugas kebersihan dan pemeliharaan lingkungan. Dengan pengelolaan yang tepat, pemasukan dari sektor pariwisata dapat menjadi salah satu penopang dalam menjaga kualitas kawasan wisata.
Meski petugas kebersihan disebut telah rutin melakukan pembersihan, persoalan sampah yang ditinggalkan pengunjung masih menjadi tantangan. Laporan mengenai wisatawan yang membuang sampah sembarangan, baik di area daratan maupun di sekitar kawasan wisata, menunjukkan bahwa upaya menjaga kebersihan belum bisa sepenuhnya dibebankan kepada petugas.
Kondisi tersebut menjadi perhatian tersendiri, mengingat Labuan Cermin merupakan salah satu destinasi andalan Kabupaten Berau yang memiliki daya tarik alam dan potensi besar dalam mendukung sektor pariwisata daerah. Apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang baik, persoalan sampah berpotensi mengurangi kenyamanan pengunjung sekaligus mengancam kelestarian kawasan.
Karena itu, Gamalis menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam membangun sistem pengelolaan wisata yang lebih bertanggung jawab. Peran pengunjung, pengawas, pengelola, petugas kebersihan, hingga aparatur kampung setempat harus berjalan beriringan.
Menurutnya, kesadaran wisatawan untuk membawa kembali atau membuang sampah pada tempatnya merupakan langkah sederhana, tetapi memiliki dampak besar bagi kebersihan lingkungan. Di sisi lain, pengelola dan pihak pengawas juga perlu memastikan fasilitas kebersihan serta pengawasan kawasan berjalan secara optimal.
“Bagaimanapun, kalau kita mendatangi objek wisata lalu meninggalkan sampah, alangkah baiknya para pengunjung ikut membantu menjaga kebersihannya. Ini merupakan simbiosis antara beberapa pihak, mulai dari pengunjung, pengawas, pengelola, petugas kebersihan, hingga aparatur kampung,” pungkasnya.
Arifin/Adv
