banner 728x250

Gunung Tabur Dikembangkan dengan Sentuhan Sejarah

BERAU, BorneoPost – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mengarahkan pembangunan Kecamatan Gunung Tabur dengan tetap mempertahankan identitas sejarah dan budaya kesultanan yang menjadi kekuatan kawasan tersebut.

Bupati Berau Sri Juniarsih Mas mengatakan, setiap kecamatan memiliki potensi berbeda yang harus dikembangkan sesuai karakter wilayah. Gunung Tabur memiliki keunggulan pada sejarah, tradisi, budaya, ekonomi kreatif hingga UMKM.

“Pemkab Berau komitmen melakukan pembangunan Gunung Tabur agar lebih maju tahun ini, dengan pembangunan mencakup sektor pelestarian sejarah, ekonomi kreatif dan UMKM, pelayanan dasar hingga infrastruktur dasar,” ujar Sri Juniarsih, Jumat.

Gunung Tabur merupakan bagian dari sejarah Kesultanan Berau. Kawasan ini berkembang setelah Kesultanan Berau terpecah menjadi Kesultanan Gunung Tabur dan Sambaliung akibat perselisihan suksesi.

Jejak sejarah tersebut masih terlihat melalui keberadaan Istana Gunung Tabur yang kini menjadi Museum Batiwakkal. Museum tersebut menyimpan berbagai peninggalan, seperti meriam, singgasana dan benda-benda bersejarah, sekaligus menjadi salah satu tujuan wisata sejarah dan budaya di Berau.

Potensi tersebut diperkuat dengan tradisi yang masih terpelihara, seperti Baturunan Parau, tradisi gotong royong menurunkan perahu ke sungai, hingga ritual Manyandru.

Dari sisi ekonomi, Pemkab Berau juga mengembangkan Pasar Barambang sebagai ruang promosi UMKM sekaligus pusat kuliner dan budaya. Berada di tepi sungai dan dekat Museum Gunung Tabur, pasar ini mulai diaktifkan pada awal 2026 setiap Sabtu dan Minggu malam.

“Tahun ini pembangunan di Gunung Tabur terus berlanjut, sejumlah kegiatan fisik yang telah dirancang antara lain pembangunan dan rehabilitasi beberapa ruas jalan, drainase, irigasi, normalisasi sungai, penguatan tebing, peningkatan sistem air minum, serta lanjutan pembangunan TPS 3R,” kata Sri Juniarsih.

Pemkab berharap pembangunan infrastruktur berjalan beriringan dengan pelestarian sejarah dan budaya, sehingga Gunung Tabur tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga tetap mempertahankan identitasnya sebagai kawasan bersejarah.

Arifin/adv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *