SAMARINDA,BorneoPost – Upaya menciptakan lulusan perguruan tinggi yang siap bersaing di dunia kerja membutuhkan sinergi yang lebih kuat antara dunia pendidikan dan industri. Tantangan perubahan pasar kerja yang semakin cepat menuntut kampus tidak hanya menghasilkan lulusan berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha.
Hal itu mengemuka dalam webinar internasional bertajuk “Career Ready: Aligning Education with Industry Needs Through World-of-Work Partnerships” yang diselenggarakan melalui kolaborasi YSEALI Professional Fellows Program (PFP) Reciprocal Project dan Hetifah Scholarship Association (HSA), belum lama ini.
Kegiatan yang digelar secara daring tersebut menghadirkan Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian, Dosen UINSI Samarinda Diajeng Laili Hidayati, serta Director of Community and Government Relations Hamilton City Schools Amerika Serikat, Jennifer L. Oliver. Webinar juga diikuti mahasiswa, alumni, dosen, dan perwakilan berbagai perguruan tinggi dari sejumlah daerah di Indonesia.
Ketua HSA terpilih, Tiara Oktaviani Aras, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas penguatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Menurutnya, pengembangan generasi muda membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha hingga organisasi kepemudaan.
Sementara itu, Ketua HSA periode 2024–2026, Olli Chandra, menilai kesiapan kerja lulusan harus dibangun melalui berbagai program pendukung di luar ruang kuliah. Pendampingan karier, sertifikasi kompetensi, hingga penguatan jejaring profesional menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa memasuki dunia kerja.
“Melalui program ini, HSA berkomitmen untuk melaksanakan berbagai program guna memberikan bekal kepada mahasiswa dan alumni dengan kompetensi serta kesiapan yang dibutuhkan di dunia kerja profesional,” ujar Olli.
Ia menambahkan, kolaborasi yang dibangun juga diharapkan dapat mendukung peningkatan daya saing lulusan sekaligus membantu perguruan tinggi mencapai Indikator Kinerja Utama (IKU) yang telah ditetapkan pemerintah.
Dalam sesi diskusi, Hetifah Sjaifudian menyoroti pentingnya pemerataan pembangunan sumber daya manusia di seluruh Indonesia. Menurutnya, pengembangan talenta unggul tidak boleh hanya terpusat di Pulau Jawa, melainkan harus memperhatikan potensi dan kebutuhan daerah lainnya, termasuk Kalimantan.
“Kita tidak bisa lagi melihat pembangunan sumber daya manusia dengan kacamata yang Jawa-sentris. Indonesia Emas tidak akan tercapai kalau jembatan industri ini hanya kokoh di satu pulau,” tegas Hetifah.
Ia menjelaskan, Kalimantan memiliki karakteristik industri yang berbeda, mulai dari sektor energi, logistik hingga transformasi menuju ekonomi hijau. Karena itu, kurikulum pendidikan tinggi perlu dirancang lebih responsif terhadap kebutuhan industri lokal.
Selain itu, Hetifah menegaskan bahwa kemitraan antara kampus dan dunia usaha harus memberikan dampak nyata bagi mahasiswa, bukan hanya berhenti pada penandatanganan kerja sama formal.
Pandangan serupa disampaikan Diajeng Laili Hidayati. Ia menilai tantangan utama saat ini bukan lagi soal ketersediaan program pengembangan diri, melainkan bagaimana mendorong mahasiswa agar aktif memanfaatkan peluang yang ada.
“Mahasiswa tidak boleh pasif menunggu informasi datang, tetapi harus aktif mencari peluang, membangun kompetensi, dan memperluas jejaringnya,” kata Diajeng.
Menurutnya, keberadaan komunitas, program mentoring, serta akses langsung kepada praktisi industri dapat membantu mahasiswa meningkatkan kesiapan karier dan daya saing di dunia kerja.
Dari perspektif internasional, Jennifer L. Oliver menekankan pentingnya keterlibatan industri secara langsung dalam proses pendidikan. Ia menyebut pengembangan mikro-kredensial, sertifikasi kompetensi, serta peningkatan kapasitas tenaga pengajar sebagai langkah strategis untuk menjawab kebutuhan pasar kerja modern.
“Kampus perlu membuka diri untuk melibatkan industri secara struktural dalam proses pendidikan. Pengembangan mikro-kredensial, sertifikasi kompetensi, dan peningkatan kapasitas tenaga pengajar menjadi bagian penting dalam menciptakan lulusan yang siap menghadapi kebutuhan dunia kerja modern,” ujarnya.
Webinar tersebut juga membahas pemerataan akses program kemitraan pendidikan dan industri di luar Pulau Jawa, penyederhanaan birokrasi kerja sama antara perguruan tinggi dan perusahaan, serta penguatan ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan talenta unggul di berbagai daerah.
Menutup kegiatan, Olli Chandra menegaskan komitmen HSA untuk terus menghadirkan program pengembangan kapasitas, pendampingan karier, dan penguatan kompetensi bagi mahasiswa maupun alumni.
“Kami ingin memastikan mahasiswa dan alumni memiliki bekal yang cukup untuk memasuki dunia kerja, memperluas jejaring profesional, serta menjadi talenta unggul yang mampu berkontribusi bagi pembangunan daerah maupun nasional,” pungkasnya.
Penulis: Grace












