Samarinda,HarianBorneoPost— Perayaan Hari Tari Sedunia 2026 di Kota Samarinda tak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran budaya bagi generasi muda. Sekitar 150 penari dari berbagai sanggar dan jenjang pendidikan tampil dalam aksi flashmob yang digelar di Taman Universitas Mulawarman, Minggu (3/5/2026) sore.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 15.30 hingga 18.00 WITA ini merupakan hasil kolaborasi Panji Keroan Kutai Bersatu dan Dewan Kebudayaan Nusantara Kalimantan Timur dalam rangkaian peringatan Hari Tari Sedunia yang jatuh setiap 29 April.
Dalam penampilannya, para peserta membawakan Tari Jepen khas Kalimantan Timur dengan sentuhan koreografi kolaboratif. Gerakan yang dinamis berpadu dengan penggunaan selendang sebagai properti, menciptakan pertunjukan yang tidak hanya memikat, tetapi juga sarat nilai budaya dan filosofi.
Di balik penampilan tersebut, tersimpan proses pembelajaran yang tidak sederhana. Para penari yang merupakan murid binaan DKN-KT dan PKKB menjalani latihan intensif di bawah arahan koreografer Novarita, yang juga dosen Program Studi Tari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman. Ia merancang konsep pertunjukan sekaligus menanamkan pemahaman terhadap makna gerak dan identitas budaya lokal.
Ketua Umum DKN Kaltim, Abdunnur, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan bagi generasi muda agar lebih mengenal budaya daerahnya.
“Melalui kegiatan ini, para penari tidak hanya tampil, tetapi juga belajar tentang nilai budaya, kedisiplinan, dan pentingnya kolaborasi. Ini bagian dari upaya membangun kesadaran budaya sejak dini,” ujarnya.
Ketua PKKB, Awang Irwan Setiawan, menambahkan bahwa keterlibatan generasi muda dalam kegiatan seni seperti ini menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya daerah.
“Ini bukan hanya soal pertunjukan, tetapi proses membentuk karakter dan kecintaan terhadap budaya sendiri,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Umum PKKB, Awang Jumri, mengingatkan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah derasnya pengaruh budaya luar.
“Generasi muda harus tetap bangga dengan budaya daerahnya. Jangan sampai kita kehilangan jati diri karena terlalu terbawa arus globalisasi,” tegasnya.
Suasana di lokasi berlangsung semarak. Iringan musik yang enerjik berpadu dengan gerakan serempak para penari menarik perhatian pengunjung. Tak sedikit masyarakat yang turut mengabadikan momen, bahkan ikut menari secara spontan mengikuti irama.
Melalui kegiatan ini, diharapkan seni tari tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga media edukasi yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus digelar secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak komunitas seni di Kalimantan Timur.
Penulis: Alexandria
