banner 728x250

15 Geosite Berau Dinilai, Pemkab Optimistis Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Raih Status Nasional

TANJUNG REDEB – Proses penilaian Geopark Sangkulirang-Mangkalihat menuju pengakuan sebagai Geopark Nasional memasuki fase krusial. Tim asesor resmi memulai rangkaian verifikasi lapangan di Kabupaten Berau dengan meninjau sejumlah geosite unggulan yang menjadi andalan dalam proses evaluasi.

Peninjauan tersebut menjadi tahapan penting untuk memastikan kesiapan kawasan, tidak hanya dari sisi kekayaan geologi, tetapi juga tata kelola, pelestarian budaya, hingga keterlibatan masyarakat dalam pengembangan geopark secara berkelanjutan.

Sekretaris Kabupaten Berau, Muhammad Said, mengatakan tim asesor telah berada di Kalimantan Timur sejak 6 Juli 2026. Sebelum tiba di Berau, tim lebih dahulu menyelesaikan agenda penilaian di Kabupaten Kutai Timur.

“Setelah menyelesaikan kegiatan di Kutai Timur, hari ini tim bergerak ke Berau untuk melihat langsung sejumlah geosite yang telah kami siapkan sebagai bagian dari proses evaluasi menuju Geopark Nasional,” ujarnya. Kamis (9/7/2026).

Selama berada di Berau, tim asesor dijadwalkan mengunjungi sejumlah geosite yang tersebar di Kecamatan Talisayan, Batu Putih, Biduk-Biduk, dan Biatan. Selain kawasan geologi, penilaian juga mencakup situs sejarah dan budaya, seperti Keraton Sambaliung dan Museum Gunung Tabur, sebagai bagian dari aspek warisan budaya yang menjadi salah satu pilar geopark.

Muhammad Said mengungkapkan, Berau memegang peranan penting dalam kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Dari total 26 geosite yang tersebar di Kabupaten Berau dan Kutai Timur, sebanyak 15 geosite berada di wilayah Berau, menjadikannya daerah dengan jumlah geosite terbanyak.

“Ini tentu menjadi kebanggaan sekaligus amanah bagi Kabupaten Berau. Potensi yang kita miliki sangat besar, sehingga harus dibarengi dengan tata kelola kawasan yang baik agar memenuhi standar sebagai Geopark Nasional,” katanya.

Menurutnya, kekayaan geosite di Berau tidak hanya didominasi bentang alam karst, tetapi juga memiliki nilai ilmiah tinggi yang telah lama menjadi perhatian para peneliti. Kawasan tersebut meliputi gugusan gua di Kepulauan Maratua, kawasan karst pesisir, hingga Goa Beloyot di Kampung Merabu yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam dan penelitian arkeologi.

Namun demikian, keterbatasan waktu membuat tim asesor belum dapat mengunjungi seluruh geosite yang ada. Tim yang terdiri dari tiga asesor hanya akan melakukan verifikasi pada sejumlah lokasi prioritas yang dinilai mewakili karakteristik kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.

“Fokus kunjungan lebih banyak dilakukan di kawasan pesisir, kemudian dilanjutkan ke wilayah perkotaan untuk melihat aspek pendukung lainnya,” jelasnya.

Menghadapi proses penilaian tersebut, Pemkab Berau bersama Badan Pengelola Geopark mengaku telah melakukan berbagai persiapan. Bahkan, simulasi kunjungan lapangan telah dilaksanakan sebanyak dua kali untuk memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai standar penilaian.

Persiapan itu melibatkan pemerintah kecamatan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pengelola geosite, hingga masyarakat yang berada di sekitar kawasan.

Menurut Said, kolaborasi seluruh pihak menjadi salah satu poin penting yang ingin ditunjukkan kepada tim asesor. Sebab, keberhasilan sebuah geopark tidak hanya diukur dari kekayaan geologinya, tetapi juga dari komitmen masyarakat dalam menjaga kelestarian kawasan serta mengembangkan manfaat ekonomi melalui pariwisata berkelanjutan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa yang dibangun bukan hanya potensi alamnya, tetapi juga sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Mudah-mudahan seluruh tahapan penilaian berjalan lancar dan memberikan hasil terbaik bagi Kabupaten Berau,” pungkasnya.

Arifin/Adv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *