Pulau Derawan, BorneoPost – Lonjakan kunjungan wisatawan ke Kepulauan Derawan menjadi berkah ekonomi bagi masyarakat. Namun di balik geliat pariwisata itu, tersimpan persoalan serius: sampah. Pada puncak musim liburan, aktivitas wisata di Pulau Derawan menghasilkan hingga 46.105,1 kilogram sampah non-rumah tangga per hari, termasuk dari hotel dan penginapan. Rabu, 11 Februari 2026
Di tingkat nasional, ancaman sampah plastik juga tak kalah mengkhawatirkan. Data Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) tahun 2022 mencatat, sampah plastik yang mencemari laut Indonesia telah mencapai 398.000 ton. Limbah ini tidak hanya merusak estetika destinasi wisata, tetapi juga mengancam ekosistem laut. Ikan, burung, hingga mamalia laut kerap salah mengira plastik sebagai makanan, yang berujung pada gangguan pencernaan, penurunan kemampuan makan, bahkan kematian.
Menjawab tantangan tersebut, WWF-Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Berau membangun TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) di Pulau Derawan yang diberi nama “RUPIAH” (Rumah Pilah Sampah). Fasilitas ini dibangun sejak September 2025 dan kini siap dioperasikan setelah diresmikan.
TPS3R “RUPIAH” dilengkapi kantor operasional, gudang peralatan, serta ruang pengelolaan sampah. Sejumlah sarana pendukung telah tersedia sehingga operasional dapat langsung berjalan. Lebih dari sekadar tempat pengolahan, fasilitas ini diharapkan menjadi pusat edukasi dan simbol kebanggaan masyarakat dalam menjaga kebersihan serta keberlanjutan pariwisata Derawan. Inisiatif ini juga sejalan dengan program Laut Sehat Bebas Sampah (SEBASAH) Kementerian Kelautan dan Perikanan RI yang menargetkan pengurangan 70 persen sampah plastik ke laut.
Sebanyak 10 anggota tim pengelola telah dibentuk dan dibekali pelatihan dasar, mulai dari klasifikasi jenis sampah, teknik pemilahan, keselamatan kerja, hingga alur pengangkutan. Struktur organisasi mencakup ketua, sekretaris, bendahara, serta koordinator dan anggota bidang pengangkutan, pemilahan dan pengepakan, serta pengelolaan organik.
“Kami senang sekali dengan adanya TPS3R ini. Selama ini sampah sering jadi masalah, apalagi di musim ramai wisatawan. Dengan fasilitas ini, kami siap mengelola sampah bersama masyarakat agar Pulau Derawan tetap bersih,” ujar Heryuni, Ketua Tim Pengelola TPS3R.
Pengelolaan juga diperkuat oleh 10 local champion dari tiap RT yang berperan sebagai penggerak di tingkat warga. Mereka mendorong pemilahan sampah dari sumber, khususnya pemisahan organik dan anorganik sebelum diangkut ke TPS3R.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menyatakan kehadiran TPS3R menjadi langkah strategis menjawab persoalan sampah di pulau kecil. “Kami berharap TPS3R RUPIAH ini tidak hanya menjaga kebersihan dan keberlanjutan Pulau Derawan sebagai destinasi wisata, tetapi juga bernilai ekonomi dan menjadi rezeki bagi masyarakat, serta dapat direplikasi di wilayah lain,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Kepala Kampung Pulau Derawan, Indra Mahardika. Ia memastikan pembangunan telah rampung dan segera dioperasikan. “Kami bangga terhadap masyarakat dan semua pihak yang terlibat. Ini menjadi tonggak baru pengelolaan sampah di Derawan,” ujarnya.
Direktur Program Kelautan dan Perikanan Yayasan WWF Indonesia, Candhika Yusuf, menjelaskan pembangunan TPS3R merupakan hasil kolaborasi WWF-Indonesia, WWF-Netherlands, serta mitra korporasi seperti Epson South East Asia dan Hilton Global Foundation. “Kami berharap RUPIAH menjadi contoh dan pusat pembelajaran pengelolaan sampah berkelanjutan di pulau-pulau kecil, baik di tingkat nasional maupun regional,” katanya.
Dalam operasionalnya, TPS3R “RUPIAH” menerima sampah anorganik dari hotel, penginapan, dan rumah tangga. Sampah organik diupayakan dikelola mandiri oleh warga untuk menghindari penumpukan. Sampah anorganik dipilah lebih rinci seperti botol plastik (HDPE, LDPE), kaleng, dan kemasan sebelum dikirim dan dijual ke pasar di luar Derawan.
Namun, pengelolaan sampah di pulau kecil bukan tanpa tantangan. Keterbatasan lahan, pasokan listrik untuk proses pengepresan, serta biaya pengiriman antarpulau menjadi kendala tersendiri yang membutuhkan dukungan berkelanjutan.
Dengan beroperasinya TPS3R “RUPIAH”, masyarakat Derawan menandai babak baru dalam pengelolaan sampah berbasis kolaborasi. Langkah sederhana seperti memilah sampah dari rumah kini menjadi bagian penting menjaga masa depan Derawan agar tetap bersih, indah, dan lestari di tengah arus wisata yang terus bertumbuh.
