BERAU, BorneoPost — Festival Rindu Dumaring (FRD) 2026 memang telah berakhir. Namun, pesan utama yang dibawa festival tersebut justru baru dimulai: memastikan pengetahuan, tradisi, dan keterampilan warisan leluhur tidak berhenti di tangan para tetua adat.
Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, FRD di Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau, menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam proses pewarisan budaya. Sabtu (5/9/2026).
Rangkaian utama festival berlangsung selama enam hari, yakni 21–23 dan 28–30 Agustus 2026. Sebanyak 72 anak dan generasi muda terlibat langsung dalam proses belajar bersama para tetua kampung.
Mereka tidak hanya diperkenalkan pada nilai-nilai budaya, tetapi juga diajak mengenal berbagai bahan yang bersumber dari hutan serta mempraktikkan keterampilan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dumaring.
Model pembelajaran langsung tersebut menjadi salah satu kekuatan FRD. Pengetahuan yang selama ini hidup melalui pengalaman para tetua ditransfer kepada generasi penerus agar tidak terputus oleh perubahan zaman.
Rangkaian kemudian berlanjut dengan perlombaan umum pada 3–4 September yang khusus diperuntukkan bagi masyarakat Dumaring. Sebanyak 102 peserta ambil bagian sebelum festival ditutup pada Sabtu (5/9/2026).
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas melalui Asisten I Bidang Pemerintahan Setkab Berau, Hendratno, menegaskan FRD memiliki makna lebih luas dibandingkan sekadar festival hiburan.
Saat membacakan sambutan Bupati, Hendratno menyebut FRD sebagai bagian dari gerakan yang menghubungkan kebudayaan, lingkungan dan ekonomi masyarakat.
“Festival Rindu Dumaring bukan sekadar pesta rakyat ataupun hiburan musiman. Lebih dari itu, festival ini merupakan gerakan kebudayaan, gerakan ekonomi, dan gerakan lingkungan yang berbasis pada kekuatan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, FRD menjadi ruang bagi masyarakat Dumaring untuk memperkenalkan seni, adat istiadat dan kreativitas lokal kepada masyarakat luas. Di sisi lain, festival juga membuka peluang promosi pariwisata, terutama potensi kawasan pesisir Berau.
Pemkab Berau, kata Hendratno, akan terus mendorong pengembangan pariwisata berbasis lingkungan dan berkelanjutan. Pertumbuhan sektor wisata harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap adat serta perlindungan terhadap alam.
“Kita menginginkan pariwisata yang menghargai keluhuran adat, menjaga keaslian alam, namun pada saat yang sama mampu menggerakkan ekonomi kreatif, meningkatkan pendapatan warung warga, menghidupkan UMKM dan mengisi homestay milik masyarakat,” katanya.
Penutupan FRD 2026 juga diisi dengan pemberian apresiasi kepada para pemenang lomba keterampilan dan seni budaya. Penghargaan turut diberikan kepada tokoh adat, masyarakat, perempuan dan pemuda yang dinilai berperan dalam menjaga identitas budaya Dumaring.
Namun, pemerintah daerah mengingatkan bahwa penutupan festival bukanlah akhir dari gerakan tersebut.
Justru setelah panggung festival dibongkar dan rangkaian acara berakhir, keberlanjutan nilai yang diwariskan menjadi tantangan berikutnya.
“Esensi sejati dari sebuah festival justru dimulai setelah acara ini usai. Semangat kebersamaan dan komitmen konservasi harus kita bawa pulang dan diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari,” pungkas Hendratno.












