BERAU, BorneoPost — Pemerintah Kabupaten Berau menegaskan bahwa rehabilitasi dan reklamasi lahan bekas tambang tidak boleh berhenti pada pemenuhan kewajiban administratif perusahaan. Kawasan pascatambang harus dipulihkan secara serius dan diarahkan menjadi kawasan produktif yang mampu memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan Wakil Bupati Berau, Gamalis, saat membahas pengembangan rehabilitasi lahan dan ekonomi hijau di Kabupaten Berau. Menurutnya, sektor pertambangan selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, dan mendorong pembangunan infrastruktur. Selasa (21/7/2016).
Namun, di balik kontribusi tersebut, aktivitas pertambangan juga meninggalkan dampak lingkungan yang harus dipertanggungjawabkan.
Rehabilitasi lahan jangan dipandang sebagai kewajiban administrasi semata. Ini harus menjadi investasi jangka panjang untuk keberlanjutan daerah.
Gamalis menekankan bahwa konsep rehabilitasi saat ini harus melampaui kegiatan penghijauan biasa. Lahan bekas tambang perlu ditata ulang agar memiliki fungsi ekonomi baru yang sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Salah satu potensi yang disoroti adalah pengembangan budidaya kemiri sunan. Tanaman ini dinilai memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat ekologis, sehingga berpeluang menjadi bagian dari pengembangan kawasan ekonomi hijau di Berau.
Untuk merealisasikan hal tersebut, Pemkab Berau membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari perusahaan tambang, perguruan tinggi, lembaga penelitian, hingga pemerintah pusat.
Dalam kesempatan itu, Gamalis juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran Utusan Khusus Presiden RI untuk ASEAN, Niko Barito, beserta tim. Ia berharap dukungan tersebut dapat memperkuat upaya Berau dalam mengembangkan potensi ekonomi hijau berbasis pemanfaatan lahan pascatambang.
Wabup turut mengingatkan seluruh perusahaan tambang di Berau agar menunjukkan komitmen nyata terhadap penerapan good mining practice, termasuk memastikan reklamasi berjalan sesuai standar dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Keberhasilan daerah bukan hanya diukur dari seberapa banyak sumber daya yang diambil dari perut bumi, tetapi dari seberapa baik kita mengembalikan fungsi alam setelah dimanfaatkan.
Ia menambahkan, keberhasilan reklamasi akan menjadi salah satu tolok ukur keseriusan daerah dan pelaku usaha dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Dengan sinergi pemerintah, dunia usaha, dan akademisi, Berau optimistis dapat mengubah kawasan bekas tambang menjadi ruang produktif yang mendukung ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang.
Arifin/Adv
