TANJUNG REDEB, BorneoPost – Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) kembali melanjutkan rehabilitasi jalan poros Baturajang–Long Lamcin, Kecamatan Kelay. Tahun ini, anggaran sebesar Rp20,4 miliar disiapkan untuk membuka akses dan memperkuat konektivitas sejumlah kampung di wilayah Hulu Kelay.
Pekerjaan tersebut difokuskan pada titik-titik yang selama ini menjadi kendala utama mobilitas warga, terutama saat musim hujan. Jalan berlumpur hingga jembatan kayu yang rawan terputus akibat banjir menjadi persoalan yang hendak ditangani melalui proyek ini.
Kepala Bidang Preservasi Jalan dan Jembatan DPUPR Berau, Junaidi, mengatakan pekerjaan tahun ini merupakan kelanjutan dari penanganan yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.
“Pekerjaan tahun ini terfokus di area Long Duhung hingga Long Keluh menuju arah Sungai Duhung. Ini merupakan kelanjutan dari pekerjaan tahun lalu,” ujar Junaidi. Selasa (25/8/2026).
Penanganan mencakup perbaikan dan pembukaan badan jalan sepanjang 6,8 kilometer dengan lebar enam hingga delapan meter menggunakan tanah pilihan. DPUPR juga membangun gorong-gorong Armco di empat titik untuk memperlancar aliran air dan memperkuat struktur jalan.
Tak berhenti di badan jalan, pemerintah juga mengganti jembatan kayu yang selama ini rentan rusak dengan tiga unit jembatan Bailey berbahan rangka baja. Masing-masing memiliki bentang rata-rata 18 meter.
“Jembatan Bailey ini untuk menggantikan jembatan log kayu yang selama ini kerap terputus atau tergerus air ketika banjir,” jelas Junaidi.
Pelaksanaan proyek dipercayakan kepada PT Praja Inti Mandiri. Saat ini, mobilisasi alat berat ke lokasi pekerjaan telah berjalan. Sementara material jembatan Bailey telah memasuki tahap pemesanan dan ditargetkan tiba pada pertengahan September untuk segera dirakit.
“Sebagian alat berat sudah dimobilisasi. Untuk jembatan Bailey, materialnya sudah masuk tahap Purchase Order. Kami targetkan pertengahan September material tiba sehingga bisa langsung dirakit. Seluruh pekerjaan ditargetkan selesai pada Desember,” ungkapnya.
Sebelum pekerjaan dimulai, DPUPR juga telah melakukan koordinasi dan sosialisasi bersama unsur Muspika serta tokoh masyarakat di Balai Pertemuan Kampung Long Duhung.
Pertemuan tersebut melibatkan Camat Kelay, Kapolsek Kelay, kepala kampung dari Long Duhung, Long Lamcin dan Long Pelay, serta perwakilan Kampung Long Keluh.
Junaidi menegaskan, peningkatan infrastruktur ini memiliki arti penting bagi masyarakat karena poros tersebut menjadi jalur darat utama yang menghubungkan Long Duhung, Long Keluh, Long Pelay hingga Long Lamcin.
Selama ini, akses tersebut kerap sulit dilalui ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Kondisi jalan yang berlumpur dan jembatan kayu yang rusak akibat banjir turut menghambat mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi
.
“Dengan perbaikan ini, akses menuju Sungai Duhung dan kampung-kampung sekitarnya diharapkan jauh lebih lancar. Ini bentuk komitmen pemerintah hadir hingga wilayah pedalaman untuk meningkatkan akses sosial dan perekonomian masyarakat,” tegasnya.
Meski demikian, pekerjaan tahun ini belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan konektivitas di kawasan tersebut. DPUPR masih mencatat sekitar 30 kilometer jalur menuju Long Suluy yang belum terhubung secara optimal melalui jalur darat.
“Penanganan ini belum tuntas sampai ujung karena masih ada sekitar 30-an kilometer lagi menuju Long Suluy. Kami berharap program ini terus berlanjut secara bertahap pada tahun-tahun berikutnya sesuai kemampuan keuangan daerah,” pungkas Junaidi.












