banner 728x250

Topa Satukan Tradisi dan Kontemporer Lewat “Silaturahmi Bunyi”

SAMARINDA, BorneoPost — Alunan gong, suling, dan bunyi-bunyian kayu menggema di Gedung Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur saat Kelompok Seni Topa tampil dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Rabu (20/5/2026). Lewat tiga komposisi musik etnik yang mereka bawakan, Topa menghadirkan suasana syahdu sekaligus reflektif bagi para penonton.

Kelompok seni asal Kutai Kartanegara itu telah berdiri sejak 4 Juni 2005. Nama “Topa” diambil dari bahasa Kutai yang bermakna mampu atau sanggup melakukan sesuatu. Awalnya, Topa dikenal sebagai kelompok musik tradisi tingkilan yang biasa mengiringi tarian Melayu Kutai maupun tari pedalaman Dayak.

Namun seiring waktu, kelompok yang digawangi anak-anak muda tersebut berkembang menjadi ruang eksplorasi musik etnik modern tanpa meninggalkan akar budaya Kalimantan.

Pimpinan Kelompok Seni Topa, Tri Andi Yuniarso, mengatakan proses berkesenian mereka tumbuh dari semangat bersama untuk menjaga budaya daerah sekaligus mencari identitas baru dalam karya.

“Kami berangkat dari keinginan melestarikan seni budaya. Dari situ kami belajar bersama, bereksperimen, dan terus mencari bentuk karya yang punya karakter sendiri,” ujarnya.

Tidak hanya menjadi pengiring tari tradisional, Topa mulai menciptakan komposisi musik mandiri dengan sentuhan kontemporer. Instrumen tradisional dipadukan dengan alat musik hasil kreasi sendiri untuk menghasilkan warna musikal yang khas.

“Akar budaya tetap menjadi pijakan utama. Tapi kami mencoba mengolah bunyi menjadi lebih artistik agar musik tradisi bisa diterima lebih luas,” katanya.

Dalam pertunjukan kali ini, Topa mengusung tema “Silaturahmi Bunyi”. Tema tersebut dimaknai sebagai upaya menyatukan masyarakat melalui harmoni musik dan rasa.

“Musik bukan hanya soal bunyi, tapi juga ruang mempertemukan jiwa dan perasaan. Harapannya musik bisa memberi ketenangan,” tuturnya.

Selama lebih dari dua dekade berkarya, perjalanan Topa tidak selalu mudah. Dengan semangat mandiri, mereka kerap menyiapkan sendiri perlengkapan pertunjukan hingga kebutuhan transportasi.

Meski penuh keterbatasan, semangat berkarya tetap terjaga. Bagi Topa, dukungan dan apresiasi masyarakat menjadi kekuatan utama untuk terus menjaga eksistensi musik etnik Kalimantan di tengah arus modernisasi.

“Yang terpenting bagi kami adalah terus berproses dan berkarya. Dari situ masyarakat bisa menilai perjalanan musik yang kami hadirkan,” pungkasnya.

Penulis: Grace

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *