BERAU, Borneopost – Mandeknya pengembangan sejumlah destinasi wisata kampung di Kabupaten Berau mendapat perhatian serius DPRD. Perubahan arah kebijakan pascapergantian kepala kampung dinilai menjadi salah satu faktor utama terhentinya program yang sebelumnya telah berjalan.
Anggota Komisi II DPRD Berau, Agus Uriansyah, mengatakan perbedaan visi antar pemimpin di tingkat kampung kerap membuat program unggulan, termasuk sektor pariwisata, tidak berlanjut.
“Begitu kepemimpinan berubah dan visinya tidak sejalan, arah pembangunan juga ikut bergeser. Dampaknya, program wisata yang sudah berjalan jadi terhenti,” ujarnya.
Ia menilai, sebagian kepala kampung saat ini lebih memfokuskan pembangunan pada sektor lain seperti pertanian, sehingga potensi wisata yang sebelumnya mampu menggerakkan ekonomi lokal justru terabaikan.
Menurut Agus, kondisi ini seharusnya bisa diantisipasi sejak awal. Pemerintah Kabupaten Berau dinilai perlu memberikan panduan yang lebih jelas agar pengembangan potensi unggulan daerah tetap menjadi prioritas, terlepas dari pergantian kepemimpinan.
“Kalau ingin pariwisata tetap jadi sumber PAD, harus dikunci sejak awal dalam visi-misi kepala kampung,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menentukan arah pembangunan. Warga diminta lebih cermat memilih pemimpin yang memiliki komitmen terhadap pengembangan potensi daerah.
“Pilihan masyarakat sangat menentukan. Jangan sampai salah arah karena salah memilih pemimpin,” katanya.
Lebih lanjut, Agus menyebut kepala kampung memiliki posisi strategis sebagai motor penggerak pembangunan berbasis potensi lokal. Setiap kampung, menurutnya, memiliki peluang yang bisa dikembangkan, termasuk sektor wisata yang berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Partisipasi aktif masyarakat juga menjadi faktor kunci.
“Tidak bisa hanya menunggu dari atas. Aspirasi dari bawah harus aktif disampaikan,” ujarnya.
Dengan luas wilayah Berau yang terdiri dari puluhan kampung tersebar di 13 kecamatan, Agus menilai komunikasi antara masyarakat, pemerintah kampung, dan pemerintah daerah harus diperkuat.
“Kalau ada potensi atau masalah, sampaikan. Bisa ke pemda atau ke DPRD agar bisa segera ditindaklanjuti,” jelasnya.
Ia menegaskan, sinergi semua pihak menjadi kunci untuk menghidupkan kembali potensi wisata kampung yang sempat meredup.
“Kalau semua bergerak bersama, potensi yang sempat berhenti bisa bangkit kembali,” pungkasnya.
Arifin/Adv
