Mangrove Jadi Penggerak Ekonomi Pesisir, Perempuan Berau Diperkuat Lewat Program “Mangrove to Market”

BERAU, BorneoPost – Kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Berau dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) kian menegaskan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Melalui pendekatan berbasis ekosistem mangrove, kedua pihak mendorong peningkatan produksi tambak sekaligus memperluas peluang usaha bagi pelaku UMKM pesisir.

Sekretaris Daerah Kabupaten Berau, Muhammad Said, menegaskan kawasan pesisir Berau menyimpan potensi sumber daya alam yang besar, terutama ekosistem mangrove yang selama ini menjadi benteng alami dari abrasi dan dampak perubahan iklim.

“Wilayah pesisir Kabupaten Berau memiliki potensi yang sangat besar. Mangrove bukan hanya pelindung pesisir, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).

Menurut Said, mangrove berfungsi sebagai rumah alami bagi berbagai jenis ikan dan biota laut yang menopang produktivitas tambak warga. Hasil budidaya tersebut tidak hanya dijual dalam bentuk segar, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah seperti abon dan aneka olahan lauk siap konsumsi.

Skema ini menciptakan rantai ekonomi yang saling terhubung. Di satu sisi, petambak memperoleh peningkatan produksi berkat ekosistem yang terjaga. Di sisi lain, kelompok UMKM yang mayoritas digerakkan perempuan pesisir mendapat pasokan bahan baku yang berkelanjutan.

Pemkab Berau, lanjut Said, mendukung penuh inisiatif YKAN dalam mengembangkan ekonomi pesisir berbasis sumber daya lokal, khususnya yang melibatkan perempuan. Ia menilai penguatan peran perempuan menjadi elemen penting dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Salah satu bentuk konkret kerja sama tersebut diwujudkan melalui program “Mangrove to Market”, yakni pelatihan holistik bagi kelompok perempuan. Program ini mencakup penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas produksi, hingga literasi keuangan.

“Melalui pendekatan Mangrove to Market, masyarakat tidak hanya memahami pentingnya konservasi mangrove, tetapi juga memiliki keterampilan praktis untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan,” tegas Said.

Sementara itu, Manajer Senior Ekonomi Biru YKAN, Kiki Anggraini, menekankan bahwa ketangguhan ekonomi pesisir sangat bergantung pada kapasitas kelompok perempuan sebagai penggerak usaha lokal.

Menurutnya, pendekatan Mangrove to Market dirancang untuk memastikan pemanfaatan sumber daya alam berjalan selaras dengan upaya konservasi.

“Ketika kelompok perempuan memiliki kelembagaan yang kuat, produksi yang berkualitas, serta pengelolaan keuangan yang baik, usaha yang dibangun akan lebih berkelanjutan dan berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga sekaligus menjaga lingkungan,” ujar Kiki.

Melalui sinergi ini, pelestarian mangrove di Berau tidak lagi dipandang semata sebagai agenda lingkungan, melainkan sebagai strategi pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.

Exit mobile version