banner 728x250

Banjir Berulang, Pemkab Berau Genjot Normalisasi Drainase hingga Sungai

BERAU, BorneoPost – Persoalan banjir yang terus berulang di sejumlah titik di Kabupaten Berau kembali menjadi sorotan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mulai menggenjot penanganan melalui normalisasi saluran air dan pembangunan drainase di kawasan rawan genangan.

Sejumlah titik yang selama ini menjadi langganan banjir, seperti Jalan Singkuang, Jalan Murjani III, dan Jalan Gatot Subroto, kini masuk dalam daftar prioritas. Kawasan tersebut kerap terendam setiap kali hujan deras mengguyur, mengganggu aktivitas warga hingga lalu lintas.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Berau, Hendra Pranata, mengungkapkan salah satu titik krusial berada di Jalan Murjani III. Menurutnya, kawasan tersebut berada di daerah tangkapan air (sub-DAS) dengan luasan mencapai sekitar 218 hektare, sehingga berpotensi tinggi mengalami genangan.

“Dengan luasan tangkapan air yang cukup besar, volume limpasan saat hujan deras meningkat signifikan. Ini yang membuat kawasan tersebut rawan tergenang,” jelasnya.

Di sisi lain, proyek drainase di Jalan Singkuang yang telah dimulai sejak tahun lalu sempat tersendat. Hambatan muncul akibat adanya jalur penyeberangan sementara saat proses rehabilitasi Jembatan Sambaliung, yang mengganggu konektivitas aliran air menuju muara.

Namun, tahun ini Pemkab Berau memastikan penyelesaian proyek tersebut menjadi prioritas. Proses tender lanjutan pun telah rampung dan pengerjaan akan segera dilanjutkan.

“Interkoneksi drainase akan kami tuntaskan tahun ini, sehingga aliran air bisa langsung terhubung hingga ke pembuangan akhir,” tegas Hendra.

Untuk mendukung percepatan penanganan, Pemkab Berau menggelontorkan anggaran sekitar Rp20 miliar. Dana tersebut difokuskan pada penyempurnaan sistem drainase agar aliran air lebih lancar dan mampu menekan potensi genangan.

“Kami targetkan genangan di kawasan-kawasan ini bisa berkurang signifikan setelah proyek selesai,” tambahnya.

Tak hanya wilayah perkotaan, perhatian juga diarahkan ke kawasan perkampungan yang kerap dilanda banjir, seperti Kampung Buyung-Buyung, Gurimbang, dan Talisayan. Namun, pendekatan penanganannya berbeda.

Di wilayah bantaran sungai, opsi yang dipertimbangkan meliputi pembangunan tanggul hingga normalisasi alur sungai, mengingat karakteristik geografisnya tidak memungkinkan penanganan seperti di kawasan kota.

“Penanganannya tidak bisa disamaratakan. Kami akan lakukan kajian teknis di lapangan untuk menentukan solusi paling efektif,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *